Hakikat Kebutuhan
Aktivitas sehari-hari kita kadang berlalu begitu saja dan kurang berasa setiap harinya, rutinitas kita cenderung hanya sebatas aktivitas harian yang seolah sudah terjadwal tanpa makna berarti, kejenuhan menghampiri tatkala segalanya berjalan tanpa ada perubahan. Jika sudah begitu keluh kesah mudah sekali terucap seolah hidup kita serba kekurangan.

Pada dasarnya keinginan kita memang selalu berubah namun kebutuhan kita tidaklah demikian, artinya keinginan selalu bersifat dinamis, sedangkan kebutuhan kita bersifat statis. Seperti telah kita ketahui bersama bahwa kebutuhan kita secara mendasar dikelompokkan dalam tiga istilah yakni; primer, sekunder dan tersier. Dari ketiganya tersebut yang merupakan kebutuhan hakiki adalah kebutuhan primer semata, sedang dua yang lain sudah merupakan "kebutuhan turunan" yang biasa disebut sebagai keinginan karena bukan lagi merupakan kebutuhan yang mendasar.
Pada awalnya kebutuhan mendasar manusia sebenarnya sangatlah sederhana, yakni sandang berupa pakaian, papan berupa tempat tinggal atau rumah, dan pangan berupa makanan. Namun seiring berkembangnya peradaban, banyak terjadi pergeseran makna dan arti kebutuhan itu sendiri karena konvergensi makna dari kebutuhan, sekarang ini makna dari kebutuhan hidup manusia menjadi semakin meluas, dari yang dulunya kebutuhan primer hanya berupa; sandang, pangan, dan papan yang diartikan secara sederhana maka saat ini dari ketiganya itu ada parameter tambahan yakni kenyamanan dan kesehatan. Sebenarnya dua tambahan tersebut hanya memberi makna lebih pada tiga kebutuhan primer mendasar sebelumnya, yakni kebutuhan berpakaian yang nyaman, kebutuhan makan yang sehat, serta kebutuhan tempat tinggal yang nyaman.
Hakikat kebutuhan kita sebagai manusia pada dasarnya sangatlah sederhana, tidak memerlukan penjelasan yang luas, tinggal bagaimana kita menyikapi dalam memenuhi dan memperoleh kebutuhan yang layak bagi kita. Tidak heran jika pada kenyataannya dalam keseharian kita, sering mendapati diri kita masih merasa kurang dengan apa yang telah kita dapatkan, karena selalu melihat pada apa yang belum kita peroleh.
Jadi sebenarnya yang senantiasa mengerakkan ambisi kita sehari-hari adalah "kebutuhan turunan" atau keinginan, bukan lagi kebutuhan yang mendasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar