Membeli gaya hidup
Setiap masyarakat memiliki strata-strata sosial. Strata atau kelas ini referensinya berbeda-beda. Ada yang berdasarkan keturunan raja atau darah biru. Mereka yang terlahir dengan darah biru akan diposisikan pada strata sosial tinggi. Dalam masyarakat Jawa ada keluarga yang mengawetkan strata ini dengan mencantumkan gelar Raden atau yang lebih tinggi lagi, yang menunjukkan bahwa dia keturunan Keraton.
Di lingkungan masyarakat Hindu strata ini berdasarkan faham dan keyakinan tentang kasta, misalnya kasta Brahma, terjaga secara turun-temurun. Tak ketinggalan juga di lingkungan pesantren, anak kyai sering dipanggil Gus, menunjukkan bahwa dia masih keturunan darah biru, yang mesti dicintai dan dihormati oleh kalangan santri dan masyarakat.
Dengan kemajuan dunia pendidikan, strata sosial yang belandaskan referensi primordial, yaitu keunggulan hanya berdasarkan kelahiran dan keturunan, mulai tergeser oleh keunggulan prestasi akademis-keilmuan yang kemudian diabadikan dengan titel kesarjanaan. Kalau dulu orang bangga dengan titel Raden yang disingkat Rd, maka sekarang tersaingi oleh titel kampus Doktor dengan singkatan Dr.
Di kalangan militer strata ini sangat dijaga dan untuk mendaki ke strata yang lebih tinggi perlu perjuangan berat, sebagaimana untuk meraih Doktor atau Profesor. Di birokrasi pun demikian, strata sosial-birokrasi ini sangat besar pengaruhnya karena memiliki efek kekuasaan dan ekonomi. Hanya saja masa berlakunya tidak melekat permanent, sebatas legalitas yang sah.