Lain Dulu Lain Sekarang
Beberapa hari yang lalu saya membaca timeline di social media dari seorang tokoh agama, bisa disebut sebagai seorang ulama, "DULU orang membelanjakan HARTA untuk mendapatkan ILMU, bahkan menghabiskan sebagian HARTA untuk mendapatkan ILMU, tetapi KINI orang mencari banyak HARTA dengan ILMU-nya, DULU semakin orang berILMU akan semakin menjauhi MATERI, KINI semakin orang berILMU semakin memburu MATERI", begitu kira-kira bunyi dari tulisan beliau. Esensi dari tulisan tersebut seolah sedang menggambarkan keadaan dari bangsa ini sekarang.
Seringkali kita mendapati suatu nasehat dari para guru bijak yang semestinya senantiasa tertanam dalam benak kita. Ketika kita diberikan satu pilihan tentang nikmat hidup di dunia berupa Harta dan Ilmu, apa dari keduanya yang akan kita pilih? bagi kita hidup dengan bergelimang harta dan gemerlap materi memang menyenangkan, merasa termanjakan karena sejumlah keinginan dapat terfasilitasi. Tetapi kesemuanya itu tidaklah menjamin kebahagiaan hakiki seutuhnya, memiliki sejumlah harta memberi konsekuensi untuk senantiasa menjaganya, rentan terhinggapi sifat kikir dan bakhil karena telah merasa memiliki, padahal segala yang ada di dunia ini hanyalah titipan sebagai amanah semata dari sang Pencipta. Sebaliknya dengan ilmu kita akan merasa terjaga, tidak serta merta dalam bertindak, senantiasa hidup dalam aturan ilmu yang dimilikinya. Artinya, dengan ilmu hidup ini akan memiliki tatanan peradaban yang benar-benar beradab.
Negara ini sebenarnya memang kaya, dan tentunya banyak orang pintarnya, dan sudah pasti banyak orang yang kaya pula termasuk pejabatnya. Lantas mengapa kesejahteraan tidak dirasakan oleh banyak orang di negeri ini? kenaikan angka pertumbuhan ekonomi, penurunan angka kemiskinan dan jumlah pengangguran yang dikatakan oleh pemerintah seolah hanya berupa bahasa statistik saja tanpa ada fakta yang benar-benar nyata dirasakan oleh masyarakat secara menyeluruh. Dan kemanakah para orang pintar di negeri ini? adakah mereka memikirkan nasib negeri ini?
Negeri yang kaya saja tidak cukup untuk bisa menyejahterakan rakyatnya meski di dalamnya terdapat banyak orang pintarnya. Memerlukan manusia bermental dan bermoral mulia nan sahaja yang tidak silau dengan gemerlap materi dan gelimang harta. Sebuah kepandaian tentunya bisa dikatakan bermanfaat bilamana dapat memberikan kesejahteraan bagi orang lain dan banyak orang bukan untuk kepentingan pribadinya semata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar