Negeri Para Calo
Beberapa pola bisnis memiliki mata rantai yang saling terhubung antara satu bisnis dengan beberapa bisnis yang lain. Keterhubungan tersebut tidak lain untuk saling menjangkau kepentingan dan kebutuhan antara mereka. Ada yang saling berhubungan secara langsung dan ada juga yang secara tidak langsung bisnisnya saling terkait. Begitupun dengan bidang bisnis yang sedang kita bicarakan ini, ada beberapa hal yang menarik diri saya untuk memperhatikannya dengan seksama, mengenai estafet bisnis yang dijalankan mulai dari pemanenan gula merah sampai dengan pendistribusiannya kepada pedagang besar dan eceran sebelum sampai kepada pengguna terakhir yakni rumah tangga industri dan rumah tangga pribadi.
Petani memanen gula merah yang dikenal dengan istilah "nderes" dari pohon kelapa milik sendiri maupun hasil dari sewa pohon kelapa milik orang lain dengan sistem bagi hasil dengan pemilik pohon. Proses pemanenan kita tinggalkan karena disana sangat njlimet dan kurang begitu menyita perhatian saya, singkatnya setelah proses pemanenan berlangsung, hasil olahan gula merah dipacking ke dalam plastik ukuran 10 kg dan memastikan ukuran timbangannya, disini ada yang diisi penuh sampai 10 kg ada pula yang sengaja dikurangi beberapa ons untuk menyesuaikan dengan pengepackan plastiknya. Namun ada juga yang menyetorkannya dalam bentuk peti ataupun masih belum terbungkus rapi yang ukurannya tidak seragam, tergantung dari berapa banyak hasil panennya. Kecurangan banyak terjadi disini, mulai dari pemberian label ukuran 10 kg meski timbangan sebenarnya tidak sampai ukuran tersebut, namun saudari saya menyiasatinya dengan menimbang ulang setiap pack yang disetorkan kepadanya, sehingga kecurangan timbangan masih bisa diminimalisir. Kecurangan tidak berhenti disini, ada banyak petani-petani fiktif jika diistilahkan demikian, karena mereka sebenarnya tidak benar-benar mengolah hasil dari pohon kelapa menjadi gula merah, melainkan hanya mengumpulkannya dari para petani untuk kemudian disetorkan kepada pengepul sebelum sampai pada pewirausaha gula merah yang sebenarnya.
Sisi lainnya adalah banyak orang yang memanfaatkan kondisi likuid dari bisnis ini yang ingin ikut terjun meski sebenarnya mereka tidak memiliki bekal yang memadai dari segi modal pengetahuan, materi maupun finansial. Sehingga banyak yang gulung tikar atau stag sebelum bisnis benar-benar berjalan. Parahnya lagi banyak dijumpai dalam bisnis ini beroperasinya para makelar-calo pengada (hulu) barang dan penadah (hilir) barang. Mulai dari hulu yakni iming-iming menawarkan suplai gula melimpah dengan harga murah dari penderes (petani gula-red) kepada para pewirausaha, alih-alih mereka meminta uang di muka sebagai modal menebus gula dari para penderes, namun barang tidak datang sesuai waktu yang dijanjikan dan lagi banyak dari mereka juga hanya mengambil barang dari para petani ranting yang sebenarnya sudah terikat kontrak dengan pewirausahanya sendiri. Sehingga yang sebenarnya terjadi para makelar tidaklah menambah jumlah suplai barang tetapi justru malah menggerogoti omset keuntungan dari para penderes (petani gula) ranting itu sendiri. Sedang makelar-calo di bagian hilir, mereka beroperasi dengan lebih rapi karena kebanyakan keberadaan mereka ada di kota tujuan distribusi gula merah tersebut, seperti jakarta, semarang, solo, dan sragen. Modus mereka biasanya ditargetkan kepada pewirausaha pemula, yang masih buta mengenai pasar gula merah di kota tujuan, sehingga mereka akan mudah masuk ke dalam perangkapnya. Dengan berdalih mempunyai lubang penadah gula merah, para makelar-calo tersebut beraksi memperdaya sopir pengantar gula merah dari pewirausaha pemula yang telah sampai di kota untuk membongkar barangnya di sebuah gudang dan menjanjikan akan membelinya dengan harga yang lebih tinggi dari penadah lain. Tidak jarang banyak modus makelar ini berujung pada sebuah penipuan atau pencurian, karena mereka mengangkut barangnya sebelum uang pembeliannya benar-benar diberikan kepada pemilik barang. Walhasil sopir pengantar tertipu mentah-mentah dan kehilangan barangnya. Modus seperti ini merupakan satu dari sederetan gaya makelar-calo dalam memperdayai korbannya, maka pewirausaha kelas kawak atau yang lebih pengalaman dan profesional tidak akan mudah tergiur dengan trik untung besar, mereka lebih mempercayai untuk membangun jaringan usaha yang terpercaya dengan orang-orang yang dikenal dan sudah dikenali memiliki integritas tinggi dalam menjalankan bisnis bersama.
Pola yang terbangun dari logika berpikir saya adalah jika dicermati lebih teliti dari satu kegiatan pokok perekonomian sektor mikro hasil kebun gula merah saja sudah begitu banyak pelaku usaha yang sebenarnya tidak produktif alias fiktif, dalam artian mereka tidak benar-benar menghasikan barang produksi secara nyata, hanya nimbrung menjadi bagian dari bisnis distribusi barang saja atau lebih lazim dinamakan sebagai calo atau tengkulak daripada disebut sebagai pewirausaha, bayangkan saja mereka mengumpulkan dan memutar barang hasil panen petani secara estafet demi memperoleh untung semata, tidak bekerja mengolah sumber daya hasil panen para petani supaya lebih bernilai guna. Bagaimana jika hal seperti ini dalam prakteknya terjadi di setiap sektor bisnis usaha mikro yang lain? Patutlah kalau negeri ini disebut dengan negeri para calo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar