Selasa, 05 Juni 2012


Kisah Lima Perkara Aneh


Abu Laits al-Hanafi as-SamarQandi adalah seorang ahli fiqh yang masyhur. Suatu ketika dia berkata, ayahku pernah menceritakan bahwa diantara Nabi-nabi yang bukan Rasul, ada yang menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara. 

Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi : “Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah waktu pagi menuju ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, Pertama : Apa yang kau lihat (hadapi) maka makanlah! Kedua : Engkau sembunyikan, Ketiga : Engkau terimalah, Keempat : Jangan engkau putuskan harapan, Kelima : Larilah engkau dari padanya.” 


Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah Sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, “Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.” Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar roti. Maka segera Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Ketika ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur “Alhamdulillah”. Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya Disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba saja mangkuk emas itu terkeluar semula, Nabi itu pun menanamkannya kembali sampai tiga kali berturut-turut. Maka berkatalah Nabi itu, “Aku telah melaksanakan perintahMu.” Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disadari oleh Nabi itu ternyata mangkuk emas itu keluar kembali dari tempat ia ditanam. Ketika dia melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba dia melihat seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku.!” Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihat keadaan seperti itu, lantas burung elang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata : “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh karena itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezkiku.” Nabi itu teringat akan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, yaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia mejadi bingung menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pahanya dan diberikan kepada elang itu. Setelah mendapat daging itu, elang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya. Sesudah kejadian itu, Nabi pun meneruskan perjalanannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari tempat itu karena tidak tahan mencium bau yang menyakitkan hidungnya dan sesuai dengan arahan mimpi nya yang kelima, yaitu segera lari dari sana. 

Setelah menemui kelima peristiwa itu, maka kembalinya Nabi itu kerumahnya. Pada malam harinya, Nabi pun berdoa. Dalam doa nya dia berkata : “Ya Allah, aku telah melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpi, maka jelaskankan kepadaku arti semuanya ini.” Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah s.w.t bahwa : Pertama : “Yang kau makan itu adalah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit, tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.” Kedua : “Semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan namun ia tetap akan nampak jua.” Ketiga : “Jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya.” Keempat : “Jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantunya meskipun kau sendiri berhajat.” Kelima : “Bau yang busuk itu adalah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah.” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar