Konvergensi Pasar
Pasar biasa dikenal sebagai tempat transaksi, jual beli. Dalam pengertian itu, pasar berarti tidak hanya pasar pada layaknya. Seorang sales door to door setiap saat membuat pasar dimanapun kapanpun. Saat ia menawarkan barangnya di lapangan, maka lapanganlah pasarnya. Kadang sales menelusup ke setiap bilik rumah, maka kalau disana terjadi transaksi jadilah rumah-rumah itu pasar. Dimana-mana menjadi pasar. Di tengah masjid seorang da’i yang secara sengaja menganjurkan pendengar untuk memilih calon bupati tertentu juga tak dirasa telah menyelenggarakan pasar. Ia telah bertransaksi dengan tim sukses calon bupati, dengan pembayaran berupa bisyarah.
Dari gedung DPR sampai sekolahan-sekolahan telah menjadi pasar. Siswa yang berani ‘bayar’ uang gedung banyak, dialah yang akan masuk menjadi siswa. Banyak wali siswa yang membeli ‘kursi sekolah’ untuk anaknya. Interaksi masyarakat nyata diselenggarakan dengan cara transaksi. Hingga angan-angan keagamaan pun mencapai maqom transaksi ini. Misalnya dalam hati bergumam “aku akan rajin shalat dzuha biar cepat kaya” “shadaqah satu akan mendapat balasan sepuluh.” “rajin membaca surat al-waqiah, agar tak tertimpa kefakiran,”. Maka akan sulit seandainya ia mengeluarkan sesuatu dengan tanpa kepentingan pasar. Selalu bersama kepentingan pasar. Kepentingan bershadaqah adalah mendapat balasan materi yang berlipat. Shalat dzuha tak lain dilalui semacam ‘nyupang’ atau cari pesugihan. Itu semua karena kalkulasi hidup kita diprioritaskan untuk dunia, bukan akherat, atau sedikit prioritas akheratnya. Prosentasenya tidak imbang. Tak jarang orang berburuk sangka karena sulitnya ia memperoleh hasil materi ketika mencari penghasilan. Ia tak terbayang bahwa rialat kesulitan hidup adalah tebusan kebahagiaannya ketika di akherat. Orang sangat jarang berbaik sangka bahwa kesulitan seseorang memikir dan mencari nafkah untuk keluarga merupakan jalan kebahagiaan, karena bisa melunturkan dosa-dosanya.
Pasar telah melebar dan terjadi dimana-mana. Maka jenis dagangannya pun sangat variatif, dari dagangan wanita sampai agama. Maraknya bimbingan haji dimana-mana tak lebih dan tak kurang merupakan jenis perdagangan agama. Itupun kalau kita berfikir, dan berani tak munafik. Haji yang seharusnya ibadah, sudah ditunggangi kepentingan pasar, hingga lembaga-lembaga keuangan memberi trik-trik demi keuntungan berlipat mereka. Mereka berani memberi dana talangan dengan bunga untuk menebus bayar ongkos haji. Maka naluri pasar selalu kentara dalam prosesi haji. Sebanyak mungkin orang daftar haji itu lebih baik, karena menguntungkan lembaga keuangan dan pasar pendompleng Haji.
Tujuan dari pasar adalah keuntungan materi. Maka filosofinya adalah time is money, waktu adalah uang. Hingga uanglah yang menjadi tujuan. Padahal manusia itu adalah sebaik-sebaiknya makhluk tetapi kenapa titah hidupnya mengabdi kepada uang. Seharusnya time is benefit, waktu adalah keuntungan bagi mereka yang dapat mengelolanya. Selaras dengan firman Allah “demi waktu, sesungguhnya manusia dalam kerugian”, karena tidak bisa mengelola waktu untuk meraih keuntungan dunia akherat dan menuju Allah. Ketika keuntungan materi duniawiyah yang menjadi prioritas, maka tak terpikir lagi, keuntungan akherat, agama, social, budaya, pendidikan, lingkungan, solidaritas, toleransi, perdamaian, kemanusiaan dll. Ketika sales buku pelajaran sudah teken MOU dengan pegawai kemenag dan para guru yang cari duit, agar buku terbitannya di jadikan buku atau LKS wajib siswa, maka tak dipikirkan lagi, apakah buku ini benar-benar dibutuhkan untuk pendidikan anak didik, tak lagi timbul pikiran guru ingin meringankan beban wali murid. Yang ada di kepalanya hanyalah hitungan “berapa rupiah yang akan aku terima dari penerbit seandainya sekian ratus siswaku memakai buku pelajaran ini.
Gedung-gedung kampus yang megah dan mentereng juga diselenggarakan dengan logika pasar. Setiap gedungnya disewakan, infentarisnya direntalkan walau yang akan memakai mahasiswanya sendiri yang cuma beda fakultas. Fasilitas-fasilitasnya harus punya nilai ‘money’ sebanyak-banyaknya. Pendidikan sekarang diselenggarakan dengan nilai dasar pasar, bukan nilai dasar pendidikan. Mahasiswa, siswa dididik bagaimana hidup itu harus diselesaikan dengan uang, maka sangat wajar kalau orientasi sekolah, kuliah itu tak lain agar nanti bisa cari duit. Tak asing lagi terdengar kabar mahasiswa yang menyelesaikan tugas-tugasnya dengan uang, dengan cara membeli skripsi, atau bahkan nyogok dosennya agar diberi nilai A, walau tak becus mengerjakan tugas-tugasnya. Sekian manusia berfikir sangat sederhana “aku sekolah dapat ijazah, ijazah untuk cari rupiah.” Atau bahasa lugasnya pendidikan diselenggarakan hanyalah untuk membentuk manusia menjadi budak duit.
Dulu ketika nabi sedang berkhotbah jum'ah, sempat ditinggalkan banyak sahabatnya, karena ada serombongan pedagang yang mangkal tak jauh dari masjid. Tinggal dua belas sahabat laki-laki dan tujuh perempuan yang masih mendengar khutbah Kanjeng Nabi Muhammad. Maka turunlah serentetan surat jum'ah sebagai teguran kepada mereka yang menyangka bahwa perdagangan dan hiburan lebih baik, dibandingkan apa yang disisi Allah.“Dan apabila mereka melihat perniagaan dan permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka meninggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan. Dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.” (Surat Jum’ah 11). Itulah pasar yang melenakan manusia sepanjang zaman. Maka ada istilah pasar adalah tempatnya para setan.
Pasar telah melebar dan terjadi dimana-mana. Maka jenis dagangannya pun sangat variatif, dari dagangan wanita sampai agama. Maraknya bimbingan haji dimana-mana tak lebih dan tak kurang merupakan jenis perdagangan agama. Itupun kalau kita berfikir, dan berani tak munafik. Haji yang seharusnya ibadah, sudah ditunggangi kepentingan pasar, hingga lembaga-lembaga keuangan memberi trik-trik demi keuntungan berlipat mereka. Mereka berani memberi dana talangan dengan bunga untuk menebus bayar ongkos haji. Maka naluri pasar selalu kentara dalam prosesi haji. Sebanyak mungkin orang daftar haji itu lebih baik, karena menguntungkan lembaga keuangan dan pasar pendompleng Haji.
Tujuan dari pasar adalah keuntungan materi. Maka filosofinya adalah time is money, waktu adalah uang. Hingga uanglah yang menjadi tujuan. Padahal manusia itu adalah sebaik-sebaiknya makhluk tetapi kenapa titah hidupnya mengabdi kepada uang. Seharusnya time is benefit, waktu adalah keuntungan bagi mereka yang dapat mengelolanya. Selaras dengan firman Allah “demi waktu, sesungguhnya manusia dalam kerugian”, karena tidak bisa mengelola waktu untuk meraih keuntungan dunia akherat dan menuju Allah. Ketika keuntungan materi duniawiyah yang menjadi prioritas, maka tak terpikir lagi, keuntungan akherat, agama, social, budaya, pendidikan, lingkungan, solidaritas, toleransi, perdamaian, kemanusiaan dll. Ketika sales buku pelajaran sudah teken MOU dengan pegawai kemenag dan para guru yang cari duit, agar buku terbitannya di jadikan buku atau LKS wajib siswa, maka tak dipikirkan lagi, apakah buku ini benar-benar dibutuhkan untuk pendidikan anak didik, tak lagi timbul pikiran guru ingin meringankan beban wali murid. Yang ada di kepalanya hanyalah hitungan “berapa rupiah yang akan aku terima dari penerbit seandainya sekian ratus siswaku memakai buku pelajaran ini.
Gedung-gedung kampus yang megah dan mentereng juga diselenggarakan dengan logika pasar. Setiap gedungnya disewakan, infentarisnya direntalkan walau yang akan memakai mahasiswanya sendiri yang cuma beda fakultas. Fasilitas-fasilitasnya harus punya nilai ‘money’ sebanyak-banyaknya. Pendidikan sekarang diselenggarakan dengan nilai dasar pasar, bukan nilai dasar pendidikan. Mahasiswa, siswa dididik bagaimana hidup itu harus diselesaikan dengan uang, maka sangat wajar kalau orientasi sekolah, kuliah itu tak lain agar nanti bisa cari duit. Tak asing lagi terdengar kabar mahasiswa yang menyelesaikan tugas-tugasnya dengan uang, dengan cara membeli skripsi, atau bahkan nyogok dosennya agar diberi nilai A, walau tak becus mengerjakan tugas-tugasnya. Sekian manusia berfikir sangat sederhana “aku sekolah dapat ijazah, ijazah untuk cari rupiah.” Atau bahasa lugasnya pendidikan diselenggarakan hanyalah untuk membentuk manusia menjadi budak duit.
Dulu ketika nabi sedang berkhotbah jum'ah, sempat ditinggalkan banyak sahabatnya, karena ada serombongan pedagang yang mangkal tak jauh dari masjid. Tinggal dua belas sahabat laki-laki dan tujuh perempuan yang masih mendengar khutbah Kanjeng Nabi Muhammad. Maka turunlah serentetan surat jum'ah sebagai teguran kepada mereka yang menyangka bahwa perdagangan dan hiburan lebih baik, dibandingkan apa yang disisi Allah.“Dan apabila mereka melihat perniagaan dan permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka meninggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan. Dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.” (Surat Jum’ah 11). Itulah pasar yang melenakan manusia sepanjang zaman. Maka ada istilah pasar adalah tempatnya para setan.
Dulu Nabi Dawud yang diberikan kelebihan ketrampilan membuat baju besi oleh Allah, sekaligus bisa nyancang para setan, sempat ngelu juga tentang para ahli pasar. Suatu hari dan bahkan sampai beberapa hari, baju karya Nabi Dawud tak laku dijual. Ketika ditanya tentang penyebab sepinya pasar, sales Nabi Dawud menjawab, karena beberapa hari ini orang-orang pergi ke masjid dan kuburan, mereka semua mengingat mati. Akhirnya Nabi Dawud tercenung “kenapa bisa sedemikian mendadak mereka berubah dari fans pasar menuju ngefans sama kuburan,” ketika di telusuri Nabi Dawud, ternyata beberapa setan yang beroperasi di pasar di krangkeng Nabi Dawud. Akhirnya demi jalannya roda hidup manusia, Nabi Dawud melepas para penggoda manusia itu. Melihat peristiwa itu, maka pasar itu sangat bermanfaat ketika ia menjadi kemaslahatan manusia, tetapi madlarat ketika mengganggu orang untuk mengingat Tuhannya. Pasar selalu dibawa-bawa dalam shalat. Urusan pasar mengusik kekhusukan beribadah kita. Tetapi ingatan kepada Allah jarang mengawal kita ketika di pasar. Hingga pandangan kita terus menuju pasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar