Senin, 12 Maret 2012


Lain Dulu Lain Sekarang


Disadari atau tidak kini perubahan zaman terkhusus dalam pergeseran pola pikir dari kebanyakan orang telah terasa menggejala. Suatu pergeseran dari sebuah nilai idealisme pengetahuan dan ilmu yang jatuh kepada manipulasi dan rekayasa untuk suatu tujuan demi tumpukan harta dan gemerlap materi semata.

Beberapa hari yang lalu saya membaca timeline di social media dari seorang tokoh agama, bisa disebut sebagai seorang ulama, "DULU orang membelanjakan HARTA untuk mendapatkan ILMU, bahkan menghabiskan sebagian HARTA untuk mendapatkan ILMU, tetapi KINI orang mencari banyak HARTA dengan ILMU-nya, DULU semakin orang berILMU akan semakin menjauhi MATERI, KINI semakin orang berILMU semakin memburu MATERI", begitu kira-kira bunyi dari tulisan beliau. Esensi dari tulisan tersebut seolah sedang menggambarkan keadaan dari bangsa ini sekarang.

Sistem Jantung Manusia dalam pandangan Al Qur'an


Baru-baru ini, sebuah jurnal kedokteran ilmiah kedokteran Internasional di bidang jantung, International Journal of Cardiology, mempublikasikan sebuah paper yang berjudul “The heart and cardiovascular system in the Qur’an and Hadeeth” (Jantung dan sistem jantung dalam Al Qur’an dan Hadits). Ini termasuk sebuah paper yang langka.
Paper itu ditulis oleh Marios Loukas, Yousuf Saad, Shane Tubbs dan Mohamadali Shoja. Penulis pertama, Marios Loukas adalah seorang Profesor di St. George University dengan bidang riset seputar jantung, teknik dan anatomi pembedahan, arteriogenesis hingga pendidikan medis.
Pencarian dengan menggunakan portal ISIWeb Knowledge menyebutkan sekitar 280 paper ilmiah yang pernah ditulis oleh Marios Loukas di bidang jantung. Ini menunjukkan kredibilitas beliau sebagai pakar yang berkompeten untuk berbicara soal jantung, termasuk tulisannya yang membicarakan jantung di dalam Al Quran dan Hadits.

Kamis, 01 Maret 2012


Negeri 5 Menara: Man Jadda Wajada


Hari ini sebuah film adaptasi dari novel best seller "Negeri 5 Menara" karya Ahmad Fuadi tayang perdana di sejumlah layar lebar jakarta, sebuah film yang di sutradarai oleh Affandi Abdul Rahman, diberi judul sama dengan nama novelnya. Sekilas membaca sinopsis cerita dari salah satu resensi filmnya cukup menarik dan lumayan membuat penasaran untuk menonton versi visualisasinya. 


Ketika Amak-nya memaksa Alif untuk melanjutkan SMA ke sebuah pesantren, Alif merasa dunianya terhenti. Impiannya melanjutkan ke SMA umum dan keinginannya meneruskan kuliah ke ITB seakan-akan telah pupus. Setengah rela akhirnya dia mengikuti kemauan Amak-nya yang berkeinginan membantah stigma bahwa pesantren adalah tempat siswa ‘buangan’ atau bermasalah dengan nilai pas-pasan.